Kriya Ukir : Kerajinan sebagai Perilaku Budaya di Jepara

Ilustrasi oleh Unie/lamun

Kriya Ukir : Kerajinan sebagai Perilaku Budaya di Jepara

Kerajinan juga sering disebut sebagai Seni Kriya.
Seni Kriya berasal dari kata "Kr" (bahasa Sanskerta) yang berarti "mengerjakan", dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya, dan kerja. Pengertian kerajinan secara umum adalah suatu karya seni yang proses pembuatannya menggunakan keterampilan tangan manusia. Indonesia merupakan bangsa yang sangat kaya akan kerajinan. Seperti kerajinan kayu, kerajinan logam, kerajinan batik, dll.

Termasuk Jepara yang memiliki beragam hasil kerajinan, bisa dilihat banyaknya jenis kerajinan yang melekat pada nama-nama desa. Seperti Monel Kriyan, Grabah Mayong, Tenun Troso, Patung Mulyoharjo, Relief Senenan, dan banyak lainnya. Hingga Jepara masyhur dengan Jepara Kota Ukir, karena terkenal dengan hasil ukiran yang indah dari tangan para pengukir Jepara.
Kerajinan di Jepara adalah keterampilan turun temurun yang memang sudah dikenal berkualitas sejak lama. Banyak orang dari luar kota datang ke Jepara untuk mempelajari proses kriya, khususnya belajar mengukir. Seni Kriya Jepara sudah menjadi daya tarik dari dulu hingga kini.

Salah satu yang merespon kerajinan sebagai perilaku budaya di Jepara adalah Kriya Ukir. Kriya Ukir membuat produk kayu dengan ukiran yang detail dikerjakan secara manual oleh perajin Jepara. Terbentuk sejak 2015, Kriya Ukir dimulai dengan kesadaran akan pentingnya melestarikan keterampilan yang sudah turun temurun, khususnya seni ukir kayu Jepara. Salah satunya dengan membuat produk-produk yang memiliki nilai lebih pada estetika dan karakter, terlebih identitas lokal yang kuat dan melekat. Nilainya lebih besar dari hanya sekedar sebuah produk.

Namun, hari ini seakan identitas kelokalan yang melekat itu justru semakin luntur dan mulai bergeser terseret arus global yang praktis. Identitas kelokalan yang masih menempatkan keterampilan sebagai anugerah dan warisan leluhur yang mesti dilestarikan dan dikembangkan. Sekarang keterampilan seperti hanya sebuah jasa untuk memenuhi hasrat mewujudkan produk yang diinginkan. Akibatnya, nilai-nilai kelokalan terabaikan, luntur, dan kemudian kita akan merasa kering dan kehilangan. Identitas tidak menguat, justru semakin pudar.

Karena itulah, diperlukan upaya-upaya strategis seperti yang dilakukan Kriya Ukir. Semakin banyak yang mengusung lokal konten sebagai konten utama dalam setiap karya, semakin menguatkan identitas baik secara personal untuk para perajin, pengukir, tukang kayu, maupun identitas kolektif. Seperti para leluhur kita yang menjadikan kerajinan sebagai perilaku budaya.

Perlu adanya kesadaran posisi dan meningkatkan kualitas personal, kemudian berkolaborasi atau kesadaran kolektif. Bersama-sama saling mendorong dan mendukung untuk menciptakan kompetisi yang sehat. Karena menciptakan seni kriya yang baik tidak bisa hanya mengandalkan keterampilan. Seperti Kriya Ukir yang selama ini terus melakukan riset tentang seni kriya bersama Rumah Kartini Jepara. Perlu keberanian untuk berkarya, memproduksi, dan mewujudkan ide gagasan dalam sebuah produk. Sebagai wujud rasa syukur atas anugerah keterampilan yang dimiliki.

Hingga kerajinan sebagai perilaku budaya di Jepara, bisa semakin menguat. Dan semua yang terlibat bisa merasakan dampaknya, termasuk para pengukir, perajin, dan tukang kayu sebagai garda depan dalam menciptakan karya seni kriya. Kerajinan sebagai keterampilan yang turun temurun akan terus lestari atau bahkan semakin berkembang dari masa ke masa.

Kriya Ukir dan Rumah Kartini Jepara terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar dan berkunjung. Untuk informasi lebih lanjut, bisa mengunjungi kriyaukir.com
Rusdiyan Yazid
Rusdiyan Yazid

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment