Manisnya Buah Berkah Rambutan

Ilustrasi/Hilda

Manisnya Buah Berkah Rambutan

Sejak Desember 2018 hingga memasuki tahun 2019 Jepara banyak lalu lalang mobil-mobil bak terbuka baik pickup maupun truk masuk ke plosok-plosok desa memuat buah Rambutan. Ternyata ini terjadi lantaran semakin banyak bakul atau pedagang yang jemput bola karena permintaan yg juga semakin tinggi dari berbagai kota. Hampir ke seluruh pulau jawa.

Buah Rambutan yang notabene adalah tanaman pekarangan memang tumbuh subur hampir di semua desa di Jepara. Bahkan ada yang memiliki 2-3 pohon. Dan jika ditanya siapa yang dahulu menanam Buah Rambutan tersebut? Seringkali jawabannya adalah simbah atau kakek nenek terdahulu.

Dari buah rambutan ini masyarakat merasakan manisnya. Harga antara 10 ribu - 20 ribu per kilo itu jual ke bakul. Atau biasanya juga ditebaske ke bakul. Kalau di pasar biasanya 15 ribu - 35 ribu per bungket tergantung jenis rambutannya.

Ada beberapa jenis rambutan di Jepara, yang paling populer dimasyarakat adalah rambutan kelengkeng dan aceh. Rambutan kelengkeng cenderung kecil-kecil, warna kulit hijau-kuning, tidak ada rambutnya dan rasanya manis. Rambutan aceh ukurannya lebih besar dari rambutan kelengkeng, warna kulitnya merah, daging buahnya lebih tebal, dan ngelotok / buahnya mudah lepas dari bijinya. Selain jenis di atas ada juga jenis lainnya yang cenderung dinilai kurang enak oleh masyarakat.

Meskipun begitu, biasanya tetap diminati karena buah rambutan ya tetap buah rambutan yang memiliki rasa yang manis dan harganya lebih murah.

Buah manis Rambutan juga tidak hanya soal ekonomi, dan menjadi salah satu sumber pangan saat musimnya tiba.

Buah Rambutan adalah bentuk berkah dari tanah yang subur dan luhurnya kakek buyut kita terdahulu. Buah rambutan ditanam di pekarangan, untuk meneduhkan halaman rumah, ketika musimnya tiba bisa dinikmati langsung petik dari pohonnya.

Sedangkan disaat yang sama orang-orang perkotaan yang sudah tidak memiliki tanah karena masifnya pembangunan. Membeli buah rambutan dengan harga yang mahal, itu pun tidak lagi fresh karena sudah dikemas sedemikian rupa agar bisa lebih tahan lama. Kekayaan dan kenikmatan seperti ini mesti kita syukuri dan jaga untuk anak cucu kita kelak. Terutama masyarakat Jepara.

Dahulu, masih sering orang silaturahmi ke rumah saudara yang lebih sepuh, memberi buah pisang yang baru matang dan diambil dari pohon. Atau hasil tanam lainnya. Ada istilah weh-weh, yaitu berbagi hasil bumi kepada tetangga, saudara, atau siapapun yang membutuhkan. Jadi tidak semua hasil di jual atau dinilaikan ekonomi. Tapi juga sebagai perekat hubungan sosial masyarakat.

Sekarang juga karena masih banyaknya buah Rambutan. Banyak yang dengan senang hati mempersilahkan tetangga, saudara atau teman untuk mengambil dan menikmatinya. Ada juga yang sudah menyiapkan, biasanya untuk suguhan tamu di rumah, dan ketika tamu pulang dibawakan buah rambutan.

Buah Rambutan menjadi salah satu hasil bumi yang hari ini masih berbuah manis tidak hanya dari segi keuntungan materi, tapi juga menjadi berkah bagi masyarakat Jepara. Tugas kita selanjutnya adalah semakin melestarikan nilai-nilai kebajikan yang telah diwariskan leluhur kita secara turun temurun.
Unknown
Unknown

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment