Tradisi Jepara; Apeman atau Bodho Apem

Ilustrasi Vivi/Lamun

Apem adalah penganan tradisional yang dibuat dari tepung beras yang didiamkan semalam dengan mencampurkan telur, santan, gula dan tape serta sedikit garam kemudian dibakar atau dikukus. Bentuknya mirip serabi namun lebih tebal. Disajikan dengan juruh (kuah). Apem dikenal appam di negeri asalnya India.

Jepara memiliki sejarah panjang dengan Apem. Setiap tahun sebagian masyarakat Jepara menyelenggarakan bodho apem / apeman. Tradisi ini telah dilakukan masyarakat Jepara secara turun temurun sejak dulu.
Ada beberapa sumber yang mengatakan apeman berasal dari penyebutan bahasa arab ‘afwan’ yang berarti maaf. Kata afwan kemudian bertransformasi menjadi apeman, dipengaruhi logat jawa kental yang lebih mudah diucapkan masyarakat waktu itu.

Menurut legenda, kue ini dibawa Ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya kembali dari perjalanannya dari tanah suci. Ia membawa oleh-oleh 3 buah makanan dari sana. Namun karena terlalu sedikit, kue apem ini dibuat ulang oleh istrinya. Setelah jadi, kue-kue ini kemudian disebarkan kepada penduduk setempat. Pada penduduk yang berebutan mendapatkannya Ki Ageng Gribig meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan".

Tradisi Apeman / Bodho Apem di Jepara biasanya dilaksanakan di mushola, masjid, atau balaidesa. Masyarakat berkumpul membawa apem dari rumah, untuk kemudian bersama berdoa, biasanya tahlilan untuk keselamatan (selametan), rasa syukur, dan memohon Ridho Allah SWT.
Setelah selesai berdoa, masyarakat bersama-sama berbagi dan menikmati apem yang telah dikumpulkan.

Biasanya tradisi Bodho Apem  dilakukan setelah lebaran syawal atau bulan Apit / Dzul Qo’dah, pada malam jumat wage atau pagi jumat wage. Bulan apit diyakini masyarakat sebagai bulan yang banyak cobaan. Diantaranya yaitu paceklik yang kerap melanda masyarakat agraris. Adapun tradisi apeman dimaksudkan untuk memohon agar mampu menghadapi segala cobaan yang sedang ataupun hendak datang dengan saling memaafkan satu sama lain.

Apem menjadi sajian utama pada acara bodo apem. Apem sebagai simbol rasa syukur, berbagi, dan kebersamaan. Yang menjadi representatif keseharian masyarakat Jepara yang arif.

Kearifan lokal ini masih terjaga karena masih ada yang melestarikan dan nilai-nilai tetap diugemi masyarakat. Tradisi bodho apem / apeman adalah buah dari kebudayaan luhur yang kita miliki bersama secara turun-temurun. Ketika banyak masyarakat yang mulai individualis, dan lunturnya kebersamaan, Bodho apem meleburkan masyarakat, untuk bisa saling memaafkan, berbagi dan berdoa untuk keselamatan bersama, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo.

Tidak hanya pada saat tradisi apeman saja. Biasanya Apem juga menjadi salah satu sajian / jadah saat punya hajat / khajatan atau selametan. Apem juga masih mudah kita jumpai di pasar-pasar yang ada di Jepara. Pembuat apem tradisional juga masih ada, salah satunya Ibu Sa'adah Basri dari Desa Troso.
Ibu Sa’adah adalah salah satu yang memproduksi berbagai macam kue tradisional dari resep yang turun temurun. Termasuk kue apem, yang produksinya masih menggunakan tungku tradisional dengan bara api non migas. Harga kue apem per buahnya Rp. 2000,-.

Jika berminat dan ingin pesan, bisa datang langsung ke rumahnya di Desa Troso atau silahkan menghubungi 082223088005 (WA). Kalau ada yang memiliki usaha pembuatan kue apem tradisional, di Jepara. Bisa menuliskan nama, alamat, dan kontak yang bisa dihubungi untuk pemesanan di kotak komentar postingan ini.
Rusdiyan Yazid
Rusdiyan Yazid

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment