Pemikiran Kartini Hari Ini (1)

“Semua perbuatan, yang menyebabkan semua manusia menderita, saya anggap sebagai dosa.” - Kartini.

Dalam suratnya kepada Nona E.H Zeehandelaar - 6 November 1899

Kartini bicara tentang pernikahan yang waktu itu dianggapnya tidak adil, karena wanita tidak mendapatkan hak untuk memilih menikah dengan siapa atau menolak suaminya menikah lagi.

… ‘Dan apakah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang wanita, jika suaminya pulang bersama wanita lain, sebagai saingannya yang harus diakuinya sebagai istrinya yang sah? Suami dapat menyiksanya sampai mati, menyakiti semaunya. Kalau suaminya tidak mau menceraikannya, sampai mati pun wanita itu tidak akan memperoleh hak! Semua untuk laki-laki dan tidak ada sesuatu pun untuk wanita. Itulah hukum dan ajaran kami.’

Kartini telah membuka tirani ketidakadilan dalam sistem tatanan masyarakat melalui pikiran dan tulisannya. Sosok seorang perempuan yang pikirannya melampaui zamannya. Dan, hari ini zaman sudah berubah, perempuan maupun laki-laki dalam rumah tangga telah diatur hak-haknya sedemikian rupa. Jika terjadi kekerasan, bisa segera dilaporkan dan menuntut keadilan.

Namun, lebih dalam lagi. Pemikiran Kartini tentang  perbuatan yang mengakibatkan penderitaan, menurutnya adalah sebuah dosa / kesalahan. Telah menjadi pemikiran yang tak lekang oleh zaman. Dan menyentuh dalam berbagai persoalan, tidak hanya tentang hak-hak perempuan yang tidak terpenuhi.

Buah pemikiran untuk siapa saja, setiap insan manusia. Menuntun kita untuk bisa adil, berbuat yang terbaik bagi orang lain, apapun bentuknya. Baik dalam profesi, pekerjaan, bersosial, maupun beragama. Terlebih apabila menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak hanya menyangkut satu, dua orang saja.

Hari ini, banyak terjadi ketidakadilan yang menyebabkan penderitaan. Terutama bagi masyarakat kelas bawah. Dan, ketidakadilan ini terjadi secara terstruktur. Hukum dan norma-norma dikangkangi, hanya untuk kepentingan sebagian orang saja.

Di Jepara misalnya, para petani di kawasan sekitar lereng muria, yang mengandalkan air dari gunung muria untuk sawahnya. Tak bisa tenang, karena jika curah hujan tinggi terjadi banjir. Dan ketika tak ada hujan, waduk-waduk kering karena bekas galian batu di area atas lereng muria sekarang tak lagi mampu menahan laju air. Batunya habis dikeruk. Sawah pun kekeringan, karena waduknya tak menyimpan air lagi.

Di dalam berkehidupan, kita bisa belajar kepada siapa saja. Termasuk pemikiran-pemikiran Kartini. Tidak hanya bagi perempuan saja, namun juga bagi laki-laki. Terlebih orang-orang terpelajar. Seperti kata pram, “Seorang terpelajar, harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Unknown
Unknown

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment