Pemikiran Kartini Hari Ini (2)

Pemikiran Kartini Hari Ini (2)

‘Tetapi apakah kecerdasan pikiran itu sudah berarti segala-galanya?

Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan.’ - Kartini

Tulisan tersebut dikutip dari surat kartini pada Nyonya M.C.E. Ovink - Soer. Awal tahun 1900.

Kartini melalui suratnya mengatakan usaha pemerintah waktu itu memaksa lapisan atas, yaitu bangsawan dan pegawai untuk belajar bahasa Belanda. Tujuannya hendak memakmurkan Jawa, dengan mengajarkan rakyat pandai berhemat. Menurut Kartini tidak cukup hanya sekadar mencerdaskan pikiran saja, jika ingin memajukan peradaban, utamanya Jawa.

Kartini juga mempertanyakan, ‘Apakah gunanya memaksa orang laki-laki menyisihkan uang sekadarnya, kalau perempuan yang memegang rumah tangga tidak tahu keuangan?’

Dari pemikiran Kartini, pendidikan sama pentingnya, bagi perempuan maupun laki-laki. Tidak hanya mencerdaskan akal, tapi juga budi. Ketika hari ini, pendidikan sudah begitu mudah didapat. Baik bagi laki-laki maupun perempuan. Banyak sarjana, yang punya berderet gelar juga banyak. Masyarakat telah maju dalam hal strata pendidikan. Namun, jarang dijumpai yang maju pula budinya.

Masih mudah menemukan orang yang rakus, namun sulit menemukan orang yang jujur. Gelar pendidikan tidak menjamin suatu kecerdasan budi. Justru, hari ini banyak yang memanfaatkan kepandaiannya untuk membodohi sesamanya.

Yang berubah hanyalah jika dulu orang bodoh karena tidak sekolah, hari ini orang dianggap pintar hanya karena tamat sekolah. Kebutuhan sekolah yang tinggi, justru mengaburkan inti dari pendidikan yaitu proses pembelajaran. Utamanya, dalam proses mencerdaskan akal budi.

Hari ini banyak sekolah dan penyelenggara pendidikan yang menjajakan hasil capaian yang ajeg; dapat kerja setelah lulus, masuk universitas (jenjang berikutnya) ternama, dll. Yang pada akhirnya hanya fokus untuk mencapai hasil tersebut, bagaimana pun caranya. Akibatnya semakin hari nilai-nilai proses semakin tergerus.

Tidak heran, jika kemudian banyak dari mereka yang telah tamat sekolah tinggi berperilaku tidak jujur, korup, rakus, dan arogan. Barangkali mereka cerdas dalam pikiran, tapi tidak maju dalam budi. Seperti kata Kartini, untuk mencapai kemajuan peradaban, diperlukan akal - budi yang sama-sama maju.

Kartini dalam suratnya; ‘Siapa yang paling banyak berbuat untuk yang terakhir, yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Wanita, Ibu.’

Menurut Kartini, setiap manusia menerima pendidikan pertama kali dari seorang perempuan.

‘Dari tangan seorang perempuanlah, anak-anak mulai belajar merasa, berfikir dan berbicara. Didikan pertama kali itu bukan tanpa arti bagi seluruh penghidupan’. - Kartini.

Pendidikan sepantasnya memang tidak hanya sekadar mencerdaskan akal saja. Dan pendidikan tidak hanya cukup didapatkan di sekolah saja. Peradaban yang maju masih harus menempuh proses yang panjang. Rasanya, yang paling utama hari ini untuk menempuh proses perjalanannya mencapai kemajuan akal-budi adalah dengan kesadaran, seperti Kartini.

Unknown
Unknown

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment