Pemikiran Kartini Hari Ini (3)

5 Maret 1902

(Nyonya R.M. Abendanon - Mandri)

‘Tahukah nyonya siapa yang selalu membuat gambar wayang untuk kami? Tentu nyonya tidak tahu. Dia seorang pemain gamelan kami. Mengherankan, kenapa dia begitu pandai menggambar nan indah.

Rupanya seni menggambar itu memang asli Jepara. Anak-anak kecil dan penggembala kerbau pun dapat menggambar wayang dengan baik di pasir, tembok, jembatan atau pada sandaran jembatan.’

-Kartini

Dalam suratnya tersebut, Kartini menggambarkan bagaimana jiwa kesenian masyarakat Jepara waktu itu sudah sangat melekat. Dari anak-anak sampai dewasa, mereka gemar sekali menggambar wayang. Melalui tulisan Kartini, kita jadi tahu bahwa masyarakat juga menggemari pertunjukan wayang pada masa itu. Tidak hanya mengagumi, namun wayang dianggap masyarakat Jepara memiliki kekuatan magis.

… ‘Kami membujuk seniman kami sendiri mengukir wayang, Rupanya mereka takut arwah wayang yang diukirnya murka kepada mereka. Ayah meyakinkan mereka bahwa yang akan memikul seluruh tanggung jawab adalah ayah. Kemarahan serta balas dendam roh itu hanya akan mengenai beliau saja, sebab beliau yang menyuruh dan mereka hanya melaksanakan perintah. Lantas mereka mau.’ …

-Kartini

Tergambarkan masyarakat Jepara memang memiliki akar kesenian yang kuat. Selain keterampilan dalam berbagai bidang seni; gamelan, menggambar / melukis, dan memahat / mengukir. Masyarakat juga memiliki akar budaya yang kuat.

Namun, semakin kesini semakin bergeser. Dari masyarakat berkesenian, tergerus menjadi buruh / pekerja pabrik. Yang tadinya para pemahat / pengukir begitu banyak, dan hampir semuanya memiliki alat produksi sendiri. Hari ini mulai berkurang, justru semakin banyak yang beralih menjadi buruh.

Salah satu hal yang menggerus kerajinan ukir kayu Jepara adalah minimnya dorongan dan dukungan kepada para seniman untuk menciptakan karya mereka sendiri. Seakan sudah puas, dan hanyut dengan contoh dan desain pesanan dari pembeli.

Dan, ini juga disinggung Kartini dalam suratnya,

“Ada suatu unsur merusak yang masuk ke dalam kerajinan ukiran kayu Jepara. Hal ini dikarenakan anak-anak perempuan pegawai tinggi bumiputera sering mendorong tukang-tukang ukir untuk bekerja menurut contoh dan pola Eropa.”

Hingga hari ini tentu saja banyak seniman asal Jepara yang sudah menciptakan karyanya sendiri. Yang paling terkenal sejauh ini adalah patung macan kurung. Peran Kartini dalam mendorong terciptanya karya-karya ukiran kayu waktu itu memang sangat strategis. Namun, justru hari ini mulai tenggelam. Diperlukan peran serta banyak pihak untuk mampu mendorong seniman-seniman dalam berkarya.

Selain itu juga perlu ruang untuk menampilkan karya. Mental percaya diri, dan mengapresiasi karya juga rasanya penting untuk masyarakat Jepara. Dan yang sering diabaikan adalah kebijakan dan program pemerintah yang mestinya pro pada seniman, dan serius dalam implementasinya.

Zaman sudah berganti, konon kemajuan dimana-mana. Namun, justru kesenian ukir Jepara seperti kehilangan nyawa. Keseriusan, kepedulian dan ketulusan Kartini sudah sepantasnya kita jadikan teladan bersama.

Unknown
Unknown

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment