Pemikiran Kartini Hari Ini (4)

11 Oktober 1901
(Nona E.H. Zeehandelaar)

… ‘Dan sesuatu yang rendah walaupun berkilau serta harum, dianggap oleh masyarakat yang masih terbelakang itu sebagai sesuatu yang tidak pantas. Kami sendiri tidak akan menghiraukan hinaan itu, tetapi perlu juga kami perhatikan akibatnya. Kami hendak merintis jalan agar perempuan Jawa bebas dan mandiri! Contoh yang kami berikan harus dapat diterapkan orang lain. Dan sesuatu yang dipandang hina, tentu tidak akan ditiru orang. Apabila kami menghendaki orang lain mengikuti jejak kami, maka contoh yang kami berikan haruslah sesuatu yang hidup, menimbulkan rasa kagum dan keinginan untuk menirunya. Jadi dalam hal ini kami harus sungguh-sungguh mengindahkan sifat bangsa yang hendak kami beri penerangan dan teladan.’

Bersama adik-adiknya Kartini merasa bahwa cita-citanya mesti bisa berguna bagi masyarakat, tidak hanya bagi Kartini dan adik-adiknya saja. Meskipun Kartini adalah anak seorang bupati, namun dalam mewujudkan cita-citanya tersebut, Kartini dan adik-adiknya merasa perlu lebih berjuang agar bisa dicontoh oleh masyarakat yang sebelumnya tidak dipandang. Terutama tentang cita-citanya agar perempuan jawa bisa merdeka dan mandiri.

Tentu saja, hari ini perempuan lebih mandiri, dan lebih bebas. Terutama dalam hal berkarya, profesi, dan hal-hal lain yang kesempatannya sudah setara dengan laki-laki. Namun, pertanyaannya seberapa banyak yang memiliki cita-cita yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga berpikir tentang orang lain, tentang kondisi sosial masyarakat?

Tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Hari ini justru semakin individual. Banyak yang hanya berfikir bagi dirinya sendiri. Ketika ada yang merasa ingin mengubah keadaan juga cenderung memaksa, tidak mengindahkan apa yang ada atau kondisi di masyarakat. Akhirnya, yang individual semakin tidak peduli, yang punya potensi semakin antipati.

Cita-cita Kartini tentang perempuan Jawa yang bebas dan mandiri bisa dikatakan sudah kita nikmati. Namun, apa setelah kenikmatan ini? Terlebih di Jepara, hari Kartini setiap tahun diperingati. Perempuan-perempuan berdandan dengan kebaya dan sanggul. Namun, apakah setelah itu mereka merasa perlu tahu tentang pikiran-pikiran Kartini? Atau bahkan mereka merasa perlu ikut meneruskan cita-cita Kartini?

Entahlah, namun Kartini juga mengatakan bahwa sebagai seorang perintis tidaklah mudah. Mesti menghadapi situasi yang tidak pasti, kehidupan yang sulit, penuh dengan perjuangan, dan rasa kecewa.

… ‘Sebagai perintis, kami harus memberantas perlawanan dan menghapus prasangka semua orang. Dan jika hal ini akan berlangsung penuh dengan kekecewaan dan duka adalah sudah menjadi kepastian.’

… ‘Orang tua mana yang tidak merasa berat dan tersepit hatinya apabila harus mengorbankan anak-anaknya dalam kehidupan yang sulit, penuh dengan perjuangan dan rasa kecewa, yang merupakan nasib semua perintis?’

Tentu saja tidak ada yang ingin hidupnya ataupun hidup anaknya sulit, terlebih bagi seorang anak bupati atau saudagar. Namun, berkat para perintis lah kita bisa merasakan kemajuan sejauh ini. Berkat pengorbanan dan perjuangan mereka ini, kita tidak lagi dalam kegelapan. Orang-orang seperti Kartini akan terus ada, dan berlipat ganda. Dan, barangkali itu teman kamu, saudaramu, atau bahkan kamu sendiri.

Jepara butuh lebih banyak sosok Kartini hari ini.

Unknown
Unknown

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment