Pemikiran Kartini Hari Ini (5)

Tidak larut dalam hegemoni Kartini

Dalam 'njagong' pemikiran Kartini tadi malam rencananya ada tiga topik pembahasan mengenai Kartini yaitu pertama tentang emansipasi, moralitas termasuk kaitannya dengan agama. Kedua tentang pendidikan, dan terakhir tentang kesenian.

Njagong dimulai dengan pertanyaan Apakah lagu ibu Kita Kartini dengan liriknya yang syarat pujian yang cenderung mengangkat strata kelas Kartini relevan dengan ungkapan Kartini yang 'Panggil Aku Kartini Saja' ?

Dari sini lah, kemudian jagongan mengalir dari kapan lagu itu diciptakan, untuk apa lagu itu dipopulerkan, dan bagaimana Kartini namanya diharumkan. Pembahasan juga menyentuh pada gerakan-gerakan perempuan lain dari mulai masa belanda, orde lama, order baru, hingga hari ini.

Di satu sisi, Kartini menjadi sangat ikonik bagi gerakan perempuan Indonesia namun disisi lain Kartini menjadi hegemoni perayaan hari ini tanpa menyentuh pada kedalaman. Pembacaan Kartini tentang kondisi masyarakat, pemikiran Kartini tentang strata kelas yang dilawannya, dan keresahannya terhadap agama yang berbenturan dengan hak-hak perempuan justru tidak terangkat ke permukaan. Sedangkan, masih banyak perempuan lain baik pada masa sebelum Kartini, saat masa Kartini, dan bahkan hingga hari ini justru tidak pernah diperbincangkan.

Yang paling utama alasan Kartini bisa signifikan dibandingkan dengan  pejuang perempuan lain adalah karena Kartini menulis, dan tulisannya akhirnya terpublikasi dengan baik. Jagongan juga membahas tentang perlawanan Kartini kaitannya dengan buku-buku yang didapat Kartini dari eropa. Hingga hubungannya dengan pola masyarakat yang hanya terus berulang-ulang hingga hari ini. Termasuk diskusi Kartini semalam, yang hanya seperti pengulangan saja.

Kita akhirnya merasa juga ikut tergerus pada hegemoni, meskipun kita melakukan sesuatu yang sedikit berbeda dalam memperingati Hari Kartini yaitu dengan diskusi dan melakukan kajian terhadap pemikiran Kartini, tetap saja kita sering terjebak dalam romantisme jika setelah ini tidak berbuat apa-apa.

Masuk dalam topik kedua, mengenai pendidikan. Hampir semua aspek hari ini diambil dari barat, tidak hanya pendidikan saja. Justru, kita perlu meneladani Kartini yang mampu mengambil mana yang baik dari pengetahuan barat untuk menguatkan budaya ketimuran. Namun, hari ini di jaman yang sudah berkembang bebas. Kita tidak apa-apa kembali mengingat sejarah, namun kita juga harus mampu mengadopsi, mengambil mana-mana yang baik kemudian menyelaraskan dengan hari ini.

Mulai dari sub topik kedua ini, kita tidak hanya berbincang tentang Kartini, namun juga bicara bagaimana dari jaman ke jaman, hingga hari ini. Justru, perbincangan ini cepat mengerucut ke bagaimana kita menyikapi dan kemudian melakukan sesuatu (berkarya). Masuk di topik terakhir tentang kesenian.

Bagaimana hari ini sudah tidak lagi bicara tentang standar ideologi dan estetika. Namun, justru ekspresi bebas secara personal maupun komunal. Lakukan yang ingin kita lakukan. Seperti mantra Kartini yang hanya dua kata; Aku Mau!

Tentu saja, banyak isi obrolan yang tidak kalah bermutu yang tidak tersampaikan melalui tulisan ini. Jagongan dimulai pukul 09.00 malam dan berakhir pukul 12.00 malam. Dihadiri 16 orang, dengan 4 perempuan. Lokasi di Umah Mepi, Kaliputih, Bantul, Yogyakarta.

Unknown
Unknown

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment